Rumah yang Mengapung di Atas Air

ANDRE KUSPRIANTO - AH0793091KN

Arsitektur dalam konteks ‘built environment’ sangat dipengaruhi dan selalu terkait pada manusia pembuatnya, serta lingkungan tempatnya berada. Kondisi alam secara langsung akan mempengaruhi perilaku manusia yang tinggal dan secara fisik terhadap bentuk arsitekturnya yang terbentuk di daerah itu. Pada keadaan tertentu, arsitektur juga dapat mempengaruhi perilaku manusia yang tinggal dan sebaliknya. Hal ini dapat terjadi bila arsitektur di daerah tersebut memang sudah eksis dan direncanakan sedemikian rupa dengan tujuan untuk mengubah arsitektur yang lama karena adanya intervensi pihak luar.
Dalam pemilihan lokasi untuk menetap, manusia pertama mempunyai beberapa kriteria yaitu: dekat terhadap sumber mata air, dekat terhadap sumber makanan, dekat terhadap lokasi mata pencahariannya, dan lain-lain. Dalam hal ini terutama bahwa manusia sangat tergantung pada kebutuhannya akan air. Sungai berfungsi sebagai sumber makanan, mata pencaharian, dan terutama sumber air. Karena hal ini maka pemukiman manusia selalu terbentuk berawal di dekat sungai.
Hal ini masih terlihat sampai sekarang, terutama di kampung-kampung yang didirikan mengapung di atas air. Terbentuknya pemukiman ini karena tiga kriteria di atas yang merupakan bentuk pemecahan masalah secara fisik, khususnya dalam bentuk arsitekturnya. sungai
AWAL MULA PERADABAN : Sungai sebagai lokasi awal mula permukiman manusia.


Dusun Muara Enggelam yang telah berusia lebih kurang 56 tahun ini terbentuk karena adanya pendatang yang ingin mencari penghidupan yang lebih baik dan menemukan daerah ini sangat cocok untuk usaha perikanan air tawar. Di desa ini perbedaan tinggi air waktu pasang naik dan surut dapat mencapai 4 sampai 5 meter, dan kedalaman air pada musim kering lebih kurang 5 sampai 6 meter. Kondisi seperti ini yang membentuk perilaku manusia dalam usaha beradaptasi dengan lingkungan serta menciptakan bentuk arsitektur yang khas berupa rumah-rumah rakit. Semua rumah di daerah ini terbuat dari kayu-kayuan mengingat daerah ini masih kaya akan sumber kayu. Di satu sisi rumah ini cocok dengan lingkungannya, sedangkan di sisi lain tidak pas dengan peraturan pemerintah yang ada. Rumah-rumah rakit dianggap sebagai "rumah liar" dengan alasan tidak ada status tempat yang tetap karena mudah berpindah.
Berbeda dengan Desa Melintang yang terletak di sungai lebar yang menghubungkan Kenohan (danau) Semayang dan Kenohan Melintang. Rumah-rumah di desa ini mengambil pola pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan desa sebelumnya yaitu berupa tipe rumah panggung. Suatu hal yang menakjubkan karena tipe rumah ini memiliki ketinggian tiang pancang yang berusaha disesuaikan dengan ketinggian air pasang. Satu tiang pancang yang terbuat dari kayu besi dapat mencapai panjang sepuluh meter! Akan tetapi karena kondisi pasang-surut yang tidak menentu, kadang-kadang bangunan juga dapat "tenggelam". Bentuk antisipasi lain untuk mengatasi masalah ini adalah dengan membuat lantai tingkat yang dipergunakan sebagai tempat tinggal sementara ketika "naik air". Sementara sirkulasi di desa ini yang menggunakan jalan jembatan (katanya terpanjang di dunia!) di sisi-sisi sungai tenggelam, penduduk hilir mudik dengan perahu. Perahu ini pada malam harinya "diparkirkan" di dalam rumah.
Kota Bangun adalah sebuah kota kecamatan untuk daerah-daerah tersebut di atas. Daerah ini sudah lengkap sebagai sebuah kota kecil dengan adanya pusat-pusat administrasi dan kegiatan, serta ditunjang juga dengan adanya sirkulasi yang menghubungkannya dengan kota-kota lain di Kalimantan Timur. Tipe rumah di daerah ini masih berupa rumah panggung dengan tiang setinggi lebih kurang 50 sampai 75 sentimeter. Hal ini disebabkan karena kondisi pasang surut yang sudah tidak begitu tinggi lagi di daerah itu.
Ekspedisi Borneo ini berlangsung pada bulan Agustus - September 1993 dengan 23 orang anggota Arsitektur Hijau. Diharapkan dengan adanya ekspedisi ini dapat disentuh kondisi fisik lingkungan masyarakat yang mungkin selama ini tidak dilihat atau dikontrol oleh pihak yang berkepentingan, sehingga baik secara langsung atau tidak akan meningkatkan kualitas hidup mereka.

[kembali ke pustaka]