Kepunahan Rumah Bujang

Survai Ekspedisi Irian Jaya 1995

ANDRE KUSPRIANTO - AH0793091KN

Apa yang terbayang di pikiran Anda kalau mendengar kata "Asmat"? Mungkin di dalam benak kita segera muncul gambaran ukiran primitif yang menarik, mirip dengan ukiran Suku Aborigin di Australia. Tetapi di samping itu juga terbayang segerombol orang-orang hitam arang yang hidup di belantara rimba perawan di Propinsi Irian Jaya yang masih primitif serta suka makan orang! Sebenarnya gambaran ini adalah gambaran orang-orang Asmat di masa lampau. Sekarang, orang Asmat dapat dikatakan semaju dengan desa-desa di Jawa.
jew
JEW: dikhawatirkan punah terdesak arus perkembangan zaman.


Pada zaman Pleistocene akhir, Irian masih tergabung da-lam kontinen yang disebut sebagai Sahul-land bersama-sama dengan Australia dan Tasmania. Dari buk-ti-bukti yang ditemu-kan, diketahui bahwa manusia pertama su-dah menetap sejak 30.000 S.M., dan me-reka melakukan perburuan, menangkap ikan, dan mengumpulkan hasil alam (hunting and gathering), mirip dengan yang dilakukan Suku Asmat ketika ditemukan.
Daerah tem-pat tinggal orang As-mat berupa hutan ber-rawa atau hutan pantai yang dilewati sejumlah rangkaian sungai-su-ngai selebar Sungai Mississippi di Amerika Serikat. Hutan ini merupakan hutan hu-jan tropis yang belum terjamah oleh tangan manusia. Karena ba-nyaknya pertemuan sungai-sungai maka su-lit dikatakan di mana tepatnya daratan dan lautan mulai dan berakhir. Curah hujan di daerah ini sekitar 200 inci per tahun. Akan tetapi kondisi tanah di daerah ini memiliki daya dukung yang lemah sekali dan tidak subur untuk pertanian dan perkebunan, karena lapisan atas tanah selalu tersapu oleh air asin yang melarutkan unsur hara dalam tanah tersebut.
Dalam survai Ekspedisi Irian Jaya ini, yang berlangsung dari 8 Agustus sampai 2 September 1994, kami memilih beberapa desa yang termasuk Asmat Pantai dan beberapa lagi yang masuk Asmat Darat. Desa-desa yang diambil sebagai kemungkinan sampel adalah Syuru, Ewer, Per, Yepem, Jamasj-Jeni, Ayam, Uus, Erma-Sona, Erma Post, dengan pusatnya adalah Agats.
Secara garis besar bentuk fisik arsitektur Suku Asmat dapat digolongkan ke dalam dua tipe, yaitu Jew (rumah bujang; baca: jeo atau yeo) dan Tsjewi (rumah tempat tinggal keluarga batih, baca: cewi). Jew ini memiliki tempat yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Asmat. Di dalam rumah yang panjangnya bisa mencapai puluhan meter ini biasanya berlangsung upacara-upacara adat, pendidikan anak-anak, pembuatan ukiran, perencanaan perang dan keputusan-keputusan dalam skala desa, dan lain sebagainya. Rumah untuk kaum pria ini berbentuk empat persegi berbahan kayu-kayuan dan pelepah sagu berpengikat tali rotan. Umumnya bagian muka rumah ini menghadap ke sungai, di mana perahu-perahu ditambatkan. Pada fasadnya terdapat jumlah pintu yang sama dengan jumlah tungku yang terdapat di dalamnya. Tungkunya sendiri disebut jew-se yang berarti lumpur di dalam jew. Pada awalnya satu keluarga besar (fam) memiliki satu jew yang dikelilingi tsjewi. Tungku di dalam jew dimiliki oleh masing-masing kepala rumah tangga. Untuk memudahkan pengawasan, maka oleh pemerintah, jew-jew ini disatukan dalam konteks desa. Jadi dalam satu desa hanya terdapat saru jew dan masing-masing tungku dimi-liki oleh satu kepala fam.
Orang-orang As-mat sangat rentan terhadap "benturan budaya". Mereka sangat mudah untuk menerima budaya lain dan menerapkannya dalam ke-hidupan mereka, tidak penting apakah hal itu baik atau buruk. Dengan demikian mereka seolah-olah "dipaksa" untuk menjadi "manusia modern" dengan cara revolusioner: dalam waktu singkat dan cara yang radikal. Hal ini didorong dengan beberapa kebijaksanaan yang lambat laun akan memperkecil arti nilai-nilai budaya tradisional yang mereka anut. Dari segi arsitekturnya, dapat dilihat bahwa pada masa sekarang ini fungsi rumah bujang ini sudah makin bergeser, kalah pamor dengan sekolah-sekolah, balai desa, kantor pemerintahan, dan lain-lain. Di samping karena terbuat dari bahan alam yang tidak tahan cuaca serta upacara pembuatan yang memakan banyak waktu dan tenaga. Mungkin "monster" yang paling besar pengaruhnya adalah turisme. Jew sekarang hanya menjadi sebuah objek pariwisata untuk dikunjungi turis-turis saja.
Hal ini memerlukan penelitian yang lebih lanjut dan perencanaan yang lebih matang. Karena ini maka Arsitektur Hijau ingin membuat suatu perencanaan kawasan Agats dan sekitarnya dengan memper-timbangkan segala potensi dan kendala yang ada, serta berusaha membuat suatu konservasi dalam pemakaian sumber daya alam secara optimal. Kalau tidak kita, mahasiswa arsitektur, yang peduli dan memiliki kemampuan, siapa lagi?

[kembali ke pustaka]